Merayakan Kehilangan: #ReviewABook






“Kau adalah apa yang selalu aku tulis.”
“Aku adalah apa yang selalu kau lewatkan.”

Jika kita menemukan buku yang berjudul “Merayakan Kehilangan” maka, dua baris kalimat di atas terpampang di sampul buku berwarna putih dengan sketsa seseorang di bawah pohon.
Merayakan Kehilangan adalah buku pertama dari seorang penulis bernama lengkap Brian Khrisna.
Buku dengan judul yang sudah pasti isinya penuh dengan patah hati, membuat daya tarik sendiri bagi pembacanya, terlebih kalimat-kalimat sendu yang mampu membuka kenangan usang, dan kembali berjibaku dengan luka.

“Aku sudah bahagia sekarang. Terima kasih telah memutuskan untuk pergi. Caramu menyakitiku kemarin, adalah cara Tuhan mempertemukanku dengannya. Hari ini.”

Kalimat di atas dapat di jumpai pada pembatas buku tersebut. Benar, tidak hanya isinya yang mampu membuat orang terisak, pembatas buku juga turut memberi kesan kepada pembaca agar tak dilupakan keberadaannya.
Buku ini pastinya akan menjadi buku yang paling di idolakan bagi sebagian orang yang saat ini berpikir bahwa; Kehilangan seseorang adalah tragedi.
Jika menelaah satu persatu isi yang ingin disampaikan oleh sang penulis, maka ada satu titik dimana; Mereka yang jatuh kemudian bangkit, Mereka yang redup perlahan bersinar, Mereka yang tersakiti kembali pulih.
Kehilangan adalah satu bagian pasti yang akan kita hadapi, entah itu sekarang, atau nanti. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita terlalu bergembira menyambut kehadiran seseorang, hingga kita lupa caranya menghantar mereka untuk pergi.
Buku ini tidak hanya membahas tentang luka, air mata, patah hati, pengkhianatan, dan hal-hal menyedihkan lainnya. Buku ini lebih dari itu semua.
Merayakan Kehilangan masih tersebar di gramedia, terlebih di kota Pekanbaru. Buku ini bersanding bersama buku “The Book Of Almost” karya penulis yang sama, kelak saya akan berbagi cerita mengenai buku tersebut.
Dengan harga Rp. 64.000 (harga di Gramedia Pekanbaru) kalian dapat membawa si putih bersama kalimat-kalimat sendunya ke rumah. Membacanya di penghujung malam, dengan iringan lagu kenangan, ditemani rintik hujan, dan dengan linangan air mata.

Kalimat yang tidak kalah sendunya dapat kalian temui pada sampul belakangnya;

Aku sudah bahagia sekarang.
Tak perlu kau cemaskan aku lagi.
Aku sudah ditemukan oleh seseorang. Yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku; yang akan benar-benar menyayangiku. Yang akan benar-benar mencintaiku.
Kini aku telah ditemukannya, seseorang yang mencintai aku sebesar cintaku kepadamu dulu; atau bahkan lebih.
Aku sudah bahagia sekarang.
Tak perlu lagi kau khawatirkan kabarku.
Salahmu telah kumaafkan, luka olehmu telah tersembuhkan. Tak perlu lagi merasa bersalah karena meninggalkan aku, tak perlu lagi kau kasihani keadaanku. Hujan di kelopak mataku tak lagi memanggil namamu. Di dalam doaku namamu telah digantikan oleh nama yang baru.
Aku sudah bahagia sekarang.
Terima kasih telah memutuskan untuk pergi. Caramu menyakitiku kemarin, adalah cara Tuhan mempertemukan aku dengannya; Hari ini.

Sekian pembahasan mengenai buku Merayakan Kehilangan. Jika ingin tahu seberapa sendunya buku itu, maka belum ada kata terlambat untuk memilikinya. Yakinlah, tidak ada penyesalan, kecuali kalian mengabaikan buku tersebut.
           

Komentar